Gila, Bohong atau TUHAN...?

Pemandangan Keheningan dan Pengajaran
Inti Pemahaman:

Banyak orang menghormati Yesus sekadar sebagai tokoh moral yang baik. Namun jika kita cermati setiap pernyataan-Nya secara jujur dan akal sehat, hanya ada tiga kemungkinan: Dia seorang pembohong, orang yang tidak waras, atau Dia memang TUHAN yang hadir menyapa manusia.

Di tengah masyarakat, kita sering mendengar anggapan bahwa Yesus adalah seorang guru moral yang agung. Banyak orang menyukai ajaran kasih-Nya, tetapi menolak pengakuan bahwa Dia berasal dari TUHAN.

Jika kita merenungkannya dengan jernih, pendapat seperti itu justru membingungkan. Seorang manusia biasa yang mengaku sebagai TUHAN tidak bisa begitu saja dianggap sebagai "guru moral yang baik".

Mari kita lihat tiga kemungkinan itu secara bersahaja dan logis:

1. Kemungkinan Pertama: Pembohong Jika Yesus tahu bahwa Dia bukan TUHAN tetapi sengaja mengaku demikian, maka Dia adalah seorang penipu. Namun, seluruh pola hidup-Nya menunjukkan kejujuran, ketulusan, dan keberanian membela kebenaran hingga akhir hidup-Nya. Tidak ada kepalsuan atau niat jahat pada tindakan-Nya.
2. Kemungkinan Kedua: Terganggu Jiwanya (Gila) Jika Yesus tidak berniat menipu, tetapi Dia benar-benar merasa diri-Nya TUHAN padahal bukan, maka Dia mengalami gangguan jiwa. Namun, ajaran-ajaran-Nya sangat masuk akal, penuh hikmat, tenang, dan mampu mengubah jutaan jalan hidup manusia menjadi lebih baik. Orang yang terganggu jiwanya tidak mungkin menghasilkan pengajaran yang sedemikian sejuk dan bijaksana.
3. Kemungkinan Ketiga: Dia Adalah TUHAN Jika Yesus bukan penipu dan bukan pula orang yang hilang akal, maka pilihan yang tersisa dan paling masuk akal adalah menerima kenyataan bahwa perkataan-Nya benar. Dia adalah penyataan kasih TUHAN yang datang menyapa manusia.

Mengenal Yesus mengajak kita untuk mengambil sikap hati yang jujur. Kita tidak bisa berhenti hanya dengan mengagumi ajaran-Nya, lalu mengabaikan siapa diri-Nya sesungguhnya.

Ketika kita bersedia membuka pintu hati dan menerima perkataan-Nya dengan kerendahan hati, di situlah kita menemukan kepastian pegangan dan kedamaian sejati bagi jiwa kita.


Penelaah: DAS Sapaan Teduh MARILAH